BERANGKAT HAJI DENGAN HARTA HARAM

Written by fina

Ibadah haji adalah sebuah ibadah yang suci nan sakral. Ini adalah ibadah perjumpaan dengan Allah Subhanahu wa ta’ala Yang Maha Suci di rumah-Nya yang disucikan. Maka setiap hamba Allah yang hadir di sana hendaknya menyibukkan diri untuk selalu menyucikan diri. Suci lahir dan batin termasuk bekal yang ia bawa untuk ke sana.

Akhir-akhir ini banyak sekali orang yang sudah tidak sungkan berjumpa dengan Allah Subhanahu wa ta’ala di rumah-Nya, dalam ritual haji dan umrah dengan membawa bekal yang syubhat dan haram. Harta dari hasil menipu, memperdaya orang lain, korupsi, mencuri, hasil riba, dan lain-lain.

Belakangan saya mendengar ada seorang ibu di Jawa Timur yang telah berkali-kali berangkat haji ke Baitullah sebab dia seorang rentenir ‘sukses’ di daerahnya. Naudzubillah! Rupanya manusia seperti ini menyangka bahwa mereka akan mendapat ampunan Allah Subhanahu wa ta’ala atas semua kezaliman dan dosa yang telah mereka perbuat dengan cara berhaji atau umrah.

Lalu bagaimana hukum haji atau umrah yang seperti ini? Menurut hukum fiqih orang-orang seperti ini yang berhaji dengan nafkah non-halal maka kewajiban haji mereka telah gugur. Mereka sudah dianggap menunaikan rukun Islam yang ke lima, namun ibadah haji yang mereka lakukan tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Hal ini serupa dengan orang yang menjalankan puasa namun masih senang menggunjing, berghibah, berdusta, dan lain-lain. Sebagaimana yang telah disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya: “Siapa yang tidak mampu meninggalkan ucapan dan tindakan kotor, maka Allah Subhanahu wa ta’ala tidak akan menerima (pengorbanannya) untuk meninggalkan makan dan minum saat berpuasa.” (HR. Bukhari & Muslim)

Serupa dengan penuturan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di atas tentang orang berpuasa yang masih kerap berbuat dosa lalu amalnya tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka hal yang sedemikian berlaku bagi orang yang berhaji ke Baitullah dengan bekal harta yang haram. Di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala segala bentuk pengorbanan yang mereka lakukan saat berhaji dan seluruh aktivitasnya maka tidak akan menjumpa balasan kebaikan. Seolah menjadi sebuah aktivitas sia-sia belaka!

Kini harus menjadi perhatian bagi para calon tamu Allah yang akan berangkat haji tahun ini untuk memperhatikan bekal yang mereka bawa. Sebab semua ibadah yang mereka lakukan akan tertolak oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dalam kitab Shahih Muslim disebutkan sebuah hadits dari Rasulullah yang menuturkan tentang seseorang yang menempuh perjalanan jauh dalam ibadah. Tubuhnya lesu dan rambutnya kusut. Seharusnya kondisi safar dan terdesak (mudhthar) ini semestinya membuat Allah akan mengijabah doanya.

Pria ini hampir putus asa dalam melanjutkan perjalanan. Ia menengadahkan kedua tangannya ke arah langit seraya meminta kepada Allah Yang Maha Kaya. Ia memanggil Allah dengan ucapannya, “Ya Rabbi…., Ya Rabbi!” Namun sayang Allah Subhanahu wa ta’ala tidak berkenan untuk mengijabah doanya.

Apakah yang membuat Allah Subhanahu wa ta’ala tidak berkenan mengijabah doanya, bukankah Allah Subhanahu wa ta’ala berjanji untuk mengabulkan setiap doa hamba-Nya? Ternyata hal yang membuat Allah tidak berkenan mengijabah doa adalah karena orang ini senantiasa makan dan minum dari harta yang haram. Pakaian yang ia gunakan dibeli dari uang haram. Dan dari kecil ia selalu diberi makan oleh orang tua dari hasil nafkah haram.

Kemudian hadits itu diakhiri dengan sebuah kalimat tanya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi, “Bila demikian kondisinya, lalu bagaimana doanya bisa dikabulkan?”

Perhatikanlah dengan seksama hadits di atas bagaimana nafkah haram akan membuat ibadah kita ditolak oleh Allah Subhanahu wa ta’ala! Oleh karenanya, hendaklah setiap hamba Allah yang berniat haji di tahun ini memperhatikan bekal yang mereka bawa.

Haji mungkin hanya sekali seumur hidup kita lakukan. Bila yang sekali itu tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa ta’ala sebab ulah kita, lalu mengapa tidak kita lakukan dengan cara yang terbaik? Jangan pernah mengundang ridha Allah Subhanahu wa ta’ala dengan melakukan apa yang diharamkan-Nya.

Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala memberi kita nafkah yang cukup dan berkah serta mendatangkan keridhaan-Nya. Aamiin!

Yayasan Askar Kauny
Jl. Bina Marga No.2, Cipayung, Kec. Cipayung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13840
Hp: +62 878-7722-1200
Email: [email protected]

About the author

fina

Leave a Comment