Askar Kauny

 

Taubat adalah kembali taat dengan menyesali perbuatan dosa yang dilakukan, dosa besar maupun dosa kecil dengan memohon ampunan kepada Allah. Taubat itu bukan suatu permainan, ketika melakukan taubat maka bertaubatlah dengan sebenar-benarnya (Nasuha). Banyak orang yang masih melakukan taubat tetapi masih melakukan perbuatan dosanya. Bertaubatlah sebelum ajal menjemputmu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al-Baqarah/2″ 222).

Dikisahkan bahwa ‘Utbah al-Ghulam –semoga Allah merahmatinya dikenal sebagai seorang fasik (berbuat dosa besar), jahat, perusak dan peminum khamar. Suatu hari dia menghadiri pengajian yang dipimpin oleh Hasan al-Basri. Pada saat itu Hasan al-Basri sedang membaca tafsir ayat, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (al-Hadid: 16). Dalam membahas tafsir ayat ini, Hasan al-Basri memberi nasehat yang sangat dalam sehingga mereka yang hadir menangis tersedu-sedu. Tiba-tiba di antara para peserta pengajian, ada seorang pemuda yang berdiri dan berkata, “Wahai Syaikh Hasan! Apakah Allah swt. menerima taubat orang fasik dan jahat sepertiku jika bertaubat?” Hasan al-Basri menjawab, “Ya, Allah menerima taubat kefasikan dan kejahatanmu.”

Ketika Utbah al-Ghulam mendengar ucapan ini, mukanya pucat dan menggigil ketakutan, dia berteriak dan kemudian pingsan. Ketika sadar, Hasan al-Basri mendekatinya dan mengucapkan syair berikut ini:
Wahai pemuda yang durhaka kepada Tuhan pemilik ‘Arsy
Apakah kamu tahu apa balasan orang yang durhaka?
Nyala api yang penuh malapetaka bagi pendurhaka
Dan kemarahan pada hari (nyawa) dicabut dari ubun-ubunnya
Jika kamu sabar atas api, maka berbuat durhakalah pada-Nya
Jika tidak kuat, maka jauhlah maksiat
dan kesalahan-kesalahan yang telah kamu perbuat
Gadaikan nafsumu dan berjuanglah untuk mengatasinya.
Mendengar syair ini, ‘Utbah berteriak sangat keras dan kemudian pingsan untuk kedua kalinya. Setelah sadar, dia berkata, “Ya syaikh! Apakah Tuhan yang Maha Pengasih menerima taubat orang tercela sepertiku?” Hasan al-Basri menjawab, “Bukankah tidak ada yang menerima taubat hamba yang kejam kecuali Allah yang Maha Pemaaf?” Kemudian ‘Utbah mengangkat kepalanya dan berdoa dengan tiga doa berikut ini, Pertama, “Ya Tuhanku, jika Engkau menerima taubatku dan mengampuni dosa-dosaku maka muliakanlah diriku dengan pemahaman dan hafalan, sehingga aku dapat menghafal semua ilmu dan ayat-ayat al-Qur’an yang aku dengar dan pelajari.”
Doa kedua, “Ya Tuhanku, muliakanlah diriku dengan suara yang bagus, sehingga setiap yang mendengar bacaanku hatinya bertambah lembut.”
Doa ketiga, “Ya Tuhanku, muliakanlah diriku dengan rezeki yang halal dan berilah aku rezeki dengan tiada disangka-sangka.”

Allah mengabulkan semua doanya sehingga dia paham dan hafal al-Qur’an. Jika dia membaca al-qur’an maka semua orang yang mendengar bacaannya akan bertaubat. Setiap hari, di rumahnya didapati semangkok kuah dan dua buah potong roti. Tidak seorang pun mengetahui siapa yang meletakkannya. Keadaannya terus seperti ini hingga dia wafat. Demikianlah kondisi orang yang bertaubat kepada Allah swt. dan Allah swt. tidak menyia-nyiakan pahala orang yang memperbaiki amal perbuatannya. (Mukasyafat al-Qulub, karya Abu Hamid al-Ghazali)

Apakah Tuhan akan menerima taubatku?
Sebesar apapun dosa seseorang jika ia bertobat sepenuh hati maka ia akan mendapatkan pengampunan dosa Tuhan, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisa’/4: 110).