Askar Kauny

CELAKALAH TSA’LABAH

Dikisahkan bahwa Tsa’labah bin Hathib berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar Dia memberiku harta.” Rasulullah saw. berkata, “Wahai Tsa’labah, apakah kamu tidak ingin meneladani diriku? Apakah kamu tidak ridha menjadi seperti Nabi Allah swt.? Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, kalau aku kehendaki gunung emas berjalan bersamaku tentu hal itu akan terjadi.”Tsa’labah berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran sebagai seorang nabi, jika kamu mendoakanku dan memohon pada Allah agar memberiku harta, sungguh aku akan memberikan setiap yang berhak haknya, sungguh aku akan melakukannya, sungguh aku akan melakukannya!” Rasulullah saw. berkata, “Ya Allah, berilah Tsa’labah harta.” Kemudian Tsa’labah memelihara seekor kambing dan kambingnya itu berkembang biak dengan cepat seperti berkembang biaknya cacing, sampai-sampai kota Madinah menjadi sempit. Dia pergi dari Madinah dan menempati sebuah lembah di luar kota Madinah. Akibatnya, dia menunaikan shalat Dzuhur dan Ashar berjamaah di kota Madinah dan menunaikan shalat-shalat lainnya tidak berjamaah. Hartanya terus bertambah banyak, sehingga dia harus pindah lebih jauh. Akibatnya, dia meninggalkan shalat jamaah sama sekali.Pada hari Jum’at, Tsa’labah bertemu dengan kafilah dagang dan bertanya pada mereka tentang berita kota Madinah. Rasulullah saw. bertanya tentangnya, “Apa yang dilakukan Tsa’labah bin Hathib?”Pertanyaan itu dijawab, “Dia memelihara kambing sampai kota Madinah terasa sempit.” Kemudian orang itu memberitahu apa yang dilakukan oleh Tsa’labah. Mendengar cerita itu, Rasulullah saw. bersabda, “Aduh, celakalah Tsa’labah! Aduh, celakalah Tsa’labah! Aduh, celakalah Tsa’labah!”Kemudian Allah menurunkan ayat, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka.” (at-Taubah: 103) Allah mensyariatkan kewajiban zakat. Maka Rasulullah saw. mengutus seorang dari suku Juhaynah dan seorang dari Bani Sulaim untuk mengumpulkan zakat. Beliau saw. juga menulis surat yang ditujukan kepada mereka yang berkewajiban menunaikan zakat. Kedua utusan Rasulullah diperintahkan untuk berangkat. Rasulullah juga bersabda, ”Pergilah dan ambillah zakat dari Tsa’labah bin Hathib serta Fulan seorang yang berasal dari Bani Sulaim. Singkat cerita, mereka berdua telah sampai di hadapan Tsa’labah. Mereka meminta zakat darinya dan membacakan surat Rasulullah saw. yang ditujukan untuknya.Tsa’labah berkata, “Ini adalah jizyah bukan zakat atau ini hanyalah sejenis jizyah! Pergilah ke tempat yang lain terlebih dahulu. Jika sudah selesai, kembalilah ke sini!” Mereka berdua pun pergi menuju tempat tinggal seorang dari Bani Sulaim. Di sana, mereka menanyakan tentang zakatnya, maka orang tersebut segera berdiri dan memilih untanya yang bagus. Kemudian dia menghadap dua orang tersebut. Ketika dua orang itu melihat unta yang bagus, mereka berkata, “Kamu tidak wajib membayarkan unta yang bagus itu, dan kami tidak ingin mengambilnya darimu.” Orang itu berkata, “Ambillah, dengan senang hati aku memberikannya. Unta itu adalah milik kami, ambillah!” Ketika selesai dalam urusan zakat orang Bani Sulaim itu, mereka datang kembali menemui Tsa’labah dan memintanya zakat. Tsa’labah berkata, “Perlihatkan kepadaku surat kalian.” Tsa’labah membaca surat tersebut dan berkata, “Ini adalah saudaranya pajak. Pergilah hingga aku selesai menghitung pendapatanku.” Maka keduanya pergi dan menemui Rasulullah saw. Ketika Rasulullah saw. melihat keduanya, beliau bersabda, “Duh, celaka Tsa’labah,” sebelum dua orang pengumpul zakat itu berkata apa-apa. Sementara itu, beliau mendoakan orang dari Bani Sulaim. Kemudian dua orang utusan tersebut memberitahu apa yang telah dilakukan oleh Tsa’labah dan yang dilakukan oleh orang Bani sulaim tersebut. Maka Allah swt. menurunkan ayat berkenaan dengan Tsa’labah, “Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan karena mereka selalu berdusta.” (at-Taubah: 75-77)Dalam majlis Rasulullah ada salah seorang kerabat Tsa’labah, dia mendengar firman Allah tersebut. Kemudian dia berangkat menemui Tsa’labah dan berkata, “Celaka kamu wahai Tsa’labah! Allah swt. telah menurunkan dalam urusanmu ayat ini, ini.” Mendengar penjelasan itu, Tsa’labah keluar menemui Rasulullah saw. dan memintanya untuk menerima zakat darinya. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah melarangku menerima zakatdarimu.” Mendengar itu Tsa’labah, meraupkan wajahnya dengan debu. Rasulullah saw. bersabda, “Ini adalah perbuatanmu, aku perintahkan namun kamu tidak mentaatinya.” Ketika Rasulullah tidak mau menerima zakatnya, dia kembali ke rumahnya. Ketika Rasulullah wafat, dia datang kepada Abu Bakar dengan zakatnya, namun Abu Bakar menolaknya, kemudian datang kepada Umar dan dia menolaknya. Kemudian Tsa’labah meninggal pada masa khalifah Utsman r.a. (Mukasyafat al-Qulub, karya Abu Hamid al-Ghazali)