Askar Kauny

Kebangkitan Genre Fiksi Islami

Novel Namaku May Sarah (Asy-Syaamil, 2001) adalah debut pertamaku setelah bergabung dengan Forum Lingkar Pena. Masih berupa hasil ketikan si Denok, kuserahkan langsung ke tangan Halfino pas acara Halal bi Halal 1420 Hijriyah di Gedung Muhamadiyah.

Masih kuingat bagaimana mimik Halfino Berry, direktur Asy-Syaamil yang imut-imut itu, saat menerima bundelan naskah Namaku May Sarah.

Perpaduan antara senang dengan terheran-heran. Mungkin dipikirnya, hari begini, masih nulis dengan mesin ketik? Barangkali karena harus diketik ulang itu pula, maka kemudian cukup lama proses penerbitannya, 1,5 tahun!

Novel Menggapai Kasih-Mu dan Serpihan Hati (DAR! Mizan, 2002) adalah cerita bersambung yang pernah dimuat di majalah Panji Masyarakat 1984-1985. Ali Muakhir memintanya, jadi kukirimkan saja fotokopiannya sebab tidak sempat untuk mengetik ulang.

Sepertinya ketika itu DAR! Mizan masih belum kebanjiran naskah seperti sekarang. Jadi naskah yang ‘begitu-begitu’ saja—menurutku—sah-sah saja diterbitkan.

Editingnya sungguh menyedihkan, hampir tidak diedit, plek seperti aslinya saja. Makanya, jangankan pembacanya, lha wong penulisnya saja lumayan bingung dengan Menggapai Kasih-Mu. Ups, beribu maaf!

Tapi kavernya made in Andi Yudha sukses menyabet Adhikarya IKAPI 2002, dan ini sungguh mendongkrak penjualan bukunya. Bagaimanapun, kuucapkan banyak terima kasih DAR! Mizan!

Tembang Lara (Gema Insani Press, 2003), novel ini merupakan 13 episode naskah skenario pesanan seorang teman, tapi karena dianggapterlalu kental Islaminya, pihak produser membatalkan pembuatan sinetronnya. Daripada mubazir hasil kerja selama lima bulan itu, maka kutulis ulang menjadi sebuah novel.

Jadi, inilah satu-satunya novel karyaku yang kutulis berdasarkan naskah skenario. Dan naskah kedua yang kutulis dengan komputer.

Lain lagi dengan memoar Cahaya di Kalbuku (Pustaka Mizan, 2003). Naskah ini adalah sebuah kenangan atau memoar, pengalaman pribadi yang ke-2, setelah Sepotong Hati di Sudut Kamar (Sinar Kasih, 1979). Inilah naskah yang pertama kalinya kutulis dengan komputer.

Karena naskah-naskah sebelumnya masih kutulis dengan si Denok, mesin ketik kuno yang telah melahirkan puluhan buku.

Naskah ini pula sesungguhnya yang pertama kali kutulis sejak bergabung dengan Forum Lingkar Pena. Tapi diterbitkan belakangan, entah dengan pertimbangan apa, hanya tim kreatif Mizan yang paling tahu. Ternyata larismanis, euy!

Lukisan Rembulan (DAR! Mizan, 2003), novel ini masih ada kaitannya dengan Namaku May Sarah.

Boleh dibilang sebagai pengembangan proses kreativitas, sebab masih terinspirasi dengan peristiwa kerusuhan Mei 1998, perbenturan budaya antar etnis Tionghoa dengan Batak.

Tokoh sentralnya akhwat, seorang Jaksa satu-satunya keturunan Tionghoa di Kejaksaan Indonesia.

Aku bolak-balik ke beberapa kantor Kejaksaan, melakukan pendekatan baik melalui wawancara maupun pengamatan langsung.

Novel ini berhasil merebut perhatian para Juri Adhikarya IKAPI 2004, yang tidak ada pemenang pertama dan keduanya itu.

Meskipun tidak menjadi pemenang, tetapi aku cukup puas karena si Rumondang sempat bikin Mbak Rayani Sriwidodo, seniorku di AKSARA, kecewa berat. Hehe!

“Novelmu Lukisan Rembulan itu, Piet, sudah bagus sekali. Konfliknya dari bab pertama sampai hampir sepertiganya kamu jaga terus. Eeeh, pas endingnya itu lho, kok mendadak kamu ubah… ditempeli simbol-simbol Islam? Tahu-tahu ibunya si Rumondang dapat hidayah, masuk Islam, dijilbab… bla, bla, bla!” demikian Rayani Sriwidodo, salah seorang Juri Adhikarya IKAPI menyatakan kekecewaannya, sesaat pengumuman para pemenang digelar.
Trilogi; Kalbu, Nurani, Cahaya (DAR! Mizan, 2003), inilah novel terpanjang yang pernah kutulis.

Sesungguhnya, awalnya ingin menjadi sebuah novel. Tapi ternyata karena kepanjangan (425 halaman windows, 1,5 spasi, arial, font 12), pihak penerbit menyatakan keberatan.

Maka, jadilah novel trilogi pertamaku. Naskah ini sungguh menguras enerjiku, lima bulan secara terus-menerus hingga sempat bete tujuh keliling!

Pada episode kedua Nurani, editornya telah membabat habis sepanjang 8,5 (delapan setengah) bab!

Tanpa konfirmasi lebih dulu, apalagi mendiskusikannya. Ini sungguh sangat melukai hatiku yang terdalam. Sepanjang karier kepenulisan (30 tahun) baru kali inilah aku mengalami perasaan dizalimi oleh editor. Karena bukan sekadar diediting melainkan dihabisi!

Sungguh membuatku trauma, hingga harus berpikir panjang dulu untuk menerbitkan karya-karyaku kembali di penerbit yang sama.

Meskipun demikian, Allah memang Maha Pengasih. Senantiasa ada hikmah yang bisa kita petik setiap kali disudutkan, apalagi merasa dizalimi.

Nah, bagian yang dibabat habis itu, kemudian aku kotak-katik dan melengkapinya dengan satu bagian lain. Sehingga ada kesinambungan dengan bagian yang kutambahkan.

Ndilalah, jadilah sebuah novel tentang muhibah paramuda Islam di bumi Papua; Lukisan Bidadari diterbitkan oleh Lingkar Pena Publishing House, 2004.
Kapas-Kapas di Langit (Zikrul Hakim, 2003) yang belum lama ini meraih Islamic Book Fair Award 2005, Kategori Novel Terlaris, kutulis sekitar sebulan.

Novel ini terinspirasi oleh sosok Vani Diana, mahasiswi ITB yang bersahaja, penulis FLP imut-imut, berwajah manis dan salehah, peserta pertukaran pelajar selama 1,5 tahun ke Jepang.

Temanya tentang sosok Muslimah yang konsisten dengan hijrahnya, mekipun harus menghadapi berbagai tantangan era modernisasi. Novel ini sesungguhnya merupakan trilogi, episode ke-2, setelah Riak Hati Garsini (Asy-Syaamil, 2002).

Aku telah menggarap episode ke-3. Kejak Cinta sevilla, Pipiet Senja Publishing House, 2015.

Dalam pekan kedua sejak diterbitkan ternyata Kapas-Kapas di Langit langsung diserap pasar, 3000 eksemplar sudah terjual di toko-toko buku Jabotabek, 2007.

Saat ini masih menggarap novel Imperium, sudah 303 halaman word. Belum juga tuntas. Mohon doakan sahabatku. Agar aku masih diberi waktu untuk menuntaskan novel tema semi memoar dan politik ini.

Pipit Senja

Ipar Adalah Maut?

Ipar Adalah Maut? Sahabat, pernahkah Anda memperhatikan film seri atau