Askar Kauny

Mencari Nafkah Mendekatkat Diri Kepada Allah

Bagi seorang muslim, mencari nafkah atau bekerja dengan kebulatan tekad dan sungguh-sungguh adalah sebuah nilai yang diajarkan oleh Allah Ta’ala.Islam mengajarkan untuk bekerja keras sebab dengan bekerja, tentu dirinya akan mendapatkan hasil. Bila berhasil, maka ia akan dapat hidup menguasai dunia sebagai khalifah Allah di muka bumi. Memang sepantasnya ia yang menguasai urusan dunia ini, bukan sebaliknya. Bila sudah sedemikian, maka benar ia telah menjadi abdi Allah ( hamba Allah) bukannya hamba dunia. Itulah arti kemuliaan diri (izzah) yang hakiki.

Islam sangat mencela umatnya yang bermalas-malasan yang hanya bergantung dengan belas kasihan dari orang lain dan memenuhi kebutuhannya dengan cara meminta-minta. Bekerja adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat banyak pahalanya karena salah satu bentuk jihad fii sabillilah.

Maka seorang muslim diperintahkan untuk mencari nafkah demi mencukupi kebutuhan hidup dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggungannya.

Banyak cara dan jalan yang telah dibentangkan bagi hamba yang terkasih (ibadurrahman) untuk mendapatkan nafkah halal di jalan Allah.

Nafkah tersebut bisa ia dapatkan dengan cara bekerja sungguh dalam segala bidang karya, berdagang dengan cara yang jujur dan tidak mempermainkan harga, berprofesi, berkarir dan lain sebagainya.Sekecil apapun yang di peroleh dari hasil pekerjaan kita harus disyukuri dan harus bermanfaat bagi lingkungan sekitar.Kerja keras yang dilakukan akan mendapatkan keberkahan yang tiada tara bagi kehidupan. Semua pekerjaan tersebut tiada lain haruslah dicita-citakan untuk meraih kasih ilahi, kecintaan Tuhannya yaitu Allah Azza wa Jalla.

Bila seorang hamba membutuhkan kedekatan perasaan dan kecintaan Tuhannya, maka ia dapat menempuh jalan-jalan kebaikan yang diperintahkan. Ia bisa menjumpai Allah lewat shalat, shaum, zakat, membaca Al Qur’an dan beragam jalan kebaikan lainnya.

Dengan nafkah halal yang ia dapatkan, ia pun bisa untuk bertaqarrub mendekatkan diri kepada Tuhannya.

Seorang tabi’in bernama Ahmad bin Miskin. Seusai shalat Shubuh berjamaah, ia tidak bangkit berdiri. Ia berdzikir, mengingat keagungan Tuhan. Usai ritual dzikir yang cukup lama, ia mengangkat kedua belah tangan. Ia berdoa… mengadukan segala permasalahan kepada Allah Swt, Tuhan tempat bersandar.

Hari itu ia hampir menyerah… pasrah terhadap ketentuan Allah yang akan berlaku bagi dirinya. Ahmad bin Miskin sudah terkena dead-line pembayaran hutang. Hutang yang cukup banyak. Hingga rumah tergadai sekalipun, tak akan mampu melunasi hutangnya yang segunung. Ditambah lagi, hari itu ia tidak punya uang sepeserpun untuk membeli makanan bagi keluarganya. Apa daya…? Usai shalat Shubuh pagi itu ia coba mendekatkan diri kepada Allah dengan mengangkat tangan meminta karunia-Nya.

Allah… bantu aku, ya Rabb!! Rintihnya dalam hati…
Sejurus setelah usai berdo’a, seorang sahabat bernama Abdillah menghampirinya untuk berjabat tangan. Melihat kelesuan pada wajah sahabatnya, Abdillah berkata menyapa, “Apa yang sedang menimpamu, wahai saudaraku? Berbagilah padaku, semoga aku dapat membantumu.” Lalu Ahmad pun mengisahkan apa yang dialaminya.

Usai Ahmad bertutur, Abdillah pun mengatakan, “Usah kau resah, Ahmad! Aku akan membantu melunasi hutang-hutangmu. Anggaplah aku sebagai saudaramu, jangan sungkan untuk berbagi rasa dengan diriku!” “Nah, ini kebetulan aku bawa sepotong roti, bawalah ini dan makanlah bersama anak dan istrimu. Sekarang, pulanglah! Aku akan kembali ke rumah untuk mengambil sejumlah uang yang kau butuhkan dan aku akan datang ke rumahmu segera!”

Allahu Akbar!! Allah sungguh Maha Mendengar tutur dan munajat hamba-Nya. Baru saja Ahmad menyampaikan kegelisahannya lewat doa kepada Allah, sejurus kemudian Allah langsung mengirimkan jawaban tunai untuk kedua permasalahannya. Namun, pertolongan Allah tidak sekonyong datang tanpa pembuktian keimanan.

Ahmad kemudian pergi menuju rumahnya. Kali ini sedikit rona beban di wajahnya sudah mulai beringsut. Ia pulang dengan menenteng sepotong roti untuk dimakan bersama keluarga.

Lalu saat ia melewati sebuah lorong sempit antara rumah-rumah penduduk, seorang wanita yang menggendong bayi menyapanya, “Tuan, tolong beri makan kami tuan… anak ini yatim dan aku telah lama menjanda. Tidak ada makanan yang kami makan beberapa hari ini. Kami lapar. Bantu kami, Tuan!” Suara ibu bayi itu terdengar mengiba. Ahmad tertegun sejenak. Ia masih memegang roti yang diberikan oleh Abdillah. Sebagai kepala keluarga, ia berpikir bahwa keluarga di rumah membutuhkannya. Namun, hati kecilnya membisikan bahwa ibu dan bayi ini mungkin lebih lapar dan jauh lebih membutuhkan roti itu dibandingkan keluarganya di rumah. Akhirnya, Allah berhasil menenangkan hati Ahmad sehingga ia mampu memberikan roti tersebut kepada ibu janda dan anaknya yang yatim.

وعن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: والله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه

“Sungguh Allah Ta’ala akan menolong seorang hamba, bila sang hamba menolong saudaranya”. (HR. Muslim)

Memang, saat menyongsong pertolongan Allah terkadang Dia masih memberikan satu ujian kecil, sebagai ujian pembenaran keimanan kita. Siapa yang berhasil melewatinya, maka ia akan mendapatkan kemenangan yang nyata dari sisi Tuhannya.

Ahmad, kemudian berlalu meninggalkan ibu dan bayi yang kini berbahagia dengan pemberian yang baru mereka terima. Sementara Ahmad, ia melanjutkan langkahnya untuk kembali ke rumah dengan tangan hampa. Hampa?! Tidak… ia mendapatkan kemenangan dan pertolongan dari Allah Swt yang Maha Pemurah.

Siapa saja yang memiliki anugerah dan nikmat meski sebesar apapun, kemudian ia mampu memberikan harta itu kepada Tuhannya, agar dirinya senantiasa dekat (taqarrub), maka Tuhan akan jatuh cinta kepadanya.
Siapa orangnya yang ingin mendapatkan bagian yang terbaik dari Tuhannya, maka ia pun harus memberikan yang terbaik kepada Tuhannya dari anugerah yang ia miliki. Sebab Allah Swt berfirman,

لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. 3:92)

Juga, siapa yang ingin mendapatkan surga Tuhannya, maka juallah diri dan harta yang dimiliki kepada Allah… biarkan Sang Tuhan semesta alam membeli diri dan apa yang kita miliki, asalkan kita mendapat keridhaan-Nya. Dia Swt berfirman,

إِنَّ اللّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS. 9:111)

Nafkah yang Anda cari lalu diinfakkan di jalan-Nya, akan membuat diri ini senantiasa dijaga Allah dan tidak mungkin dapat membuat hamba terlantar dari rahmat-Nya. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman, “Bila seorang hamba bersedekah dengan niat mencari keridhaan Allah Swt, maka Allah akan berfirman kepadanya di hari kiamat, “Hambaku, Engkau pernah menaruh harapan pada-Ku, maka pantang bagi-Ku untuk menelantarkanmu. Aku telah haramkan api neraka untuk membakar dirimu dan masuklah ke surga dari pintu mana saja yang kau suka.” HR. Ibnu Hilal

Maka dengan roti yang ia miliki, Ahmad bersedekah. Ia mencari keridhaan Tuhannya. Ia pun melanjutkan langkahnya.

Belum lagi sampai di rumah. Kira-kira 60 meter lagi ia sampai, maka Abdillah datang menyongsong. Rupanya Abdillah sudah tiba terlebih dahulu di rumah Ahmad. Mungkin, pembicaraan dengan ibu janda tadi membuat dirinya tertahan beberapa saat sebab rahmat Allah Swt akan turun kepadanya.

Abdillah datang menyongsong, nafasnya tersengal lalu berkata, “Dari mana saja kau, Ahmad?!” Ahmad menuturkan kisahnya. Abdillah dengan cepat menyergah, “Di rumahmu, ada seorang saudagar. Ia membawakan seekor unta yang sarat dengan kantong emas dan permata!!!” Seolah tak percaya, Ahmad balik bertanya, “Untuk apa ia berada di rumahku…?” Abdillah dengan semangat menjelaskan, “30 tahun lalu, ia pernah meminjam modal dari ayahmu. Modal itu ia usahakan… dan rupanya usaha itu sukses dan berkah luar biasa. Suatu hari, ia datang ke rumah ayahmu. Ia dapati kabar bahwa ayahmu telah tiada dan seluruh ahli warisnya telah pindah entah kemana. Kali ini, setelah 30 tahun…. setelah modal itu diusahakan sedemikian lama dan membuahkan hasil yang berlimpah, ia dengar bahwa engkau sebagai ahli warisnya masih hidup. Ia datang membawa bagi hasil dari modal usaha yang pernah ia pinjam dari ayahmu. Ayo Ahmad, segera kita menemuinya!!!” Ahmad penasaran mendengar cerita ini. Ia pun mempercepat langkah menuju rumah.

Sesampainya di rumah, Ahmad menyaksikan kebenaran cerita Abdillah. Ia menerima tamu itu, dan ia pun menerima anugerah Allah Swt Yang sungguh tidak pernah menelantarkan hamba-Nya.

Mulai saat itu Ahmad bin Miskin bukan lagi orang miskin. Kini ia telah menjadi Ahmad bin Miskin yang kaya. Kaya karena anugerah Tuhannya. Kaya karena ia telah mendekatkan diri kepada-Nya!

Semangatlah untuk berusaha menjemput rezeki jangan takut jatah rezeki diambil, karena setiap manusia pasti memiliki jatah rezekinya masing-masing yang terpenting adalah usaha dalam mencari nafkah mendapatkan keberkahan.