Memberi yang Terbaik untuk Allah

with No Comments

 

Taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) memiliki akar kata yang sama dengan kata ‘Qurban’ atau Kurban. Ya! kurban yang kita kenal dengan cara menyembelih hewan seperti domba, kambing, kerbau, sapi, atau unta.

Kata Taqarrub dan Qurban berasal dari akar kata qaf-ra-ba, yang berarti dekat. Seperti dalam berkurban yang disyariatkan dalam ajaran Islam, bahkan jauh sebelum itu, seperti dalam kisah dua anak nabiyullah Adam As bahwa qurban adalah pola terbaik yang Allah Swt ajarkan kepada manusia untuk dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Kisah awal kurban ini selengkapnya akan kami bahas kemudian.

Namun, hal yang hendak dipetik dalam kesempatan ini adalah bahwa seperti semangat dalam berkurban adalah memberikan yang terbaik kepada Allah Swt, maka dalam bertaqarrub kepada Allah Swt pun selayaknya manusia memberikan yang terbaik kepada-Nya. Sebab, siapa yang memberikan hal terbaik kepada Allah Swt, maka Allah Swt pun akan memberikan hal terbaik juga kepadanya. Dan itu pasti!

Allah Swt berfirman:

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna di sisi Allah), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. 3:92)

Seorang pria asal Malang Jawa Timur pada tahun 1994 terbersit untuk berangkat haji. Dialah Muhammad Kasim, bukan nama asli. Meski dia tahu bahwa dirinya bukanlah orang yang berada. Dengan rezeki seadanya, ia hidupi istri dan anak-anaknya dengan cara memborong bangunan. Tahun itu, Kasim baru saja memiliki modal yang cukup. Tapi entah mengapa, Allah mengilhami kerinduan untuk datang ke Baitullah dalam hatinya.

Uang yang biasa ia pakai modal untuk memborong bangunan pun ia setorkan ke bank sebagai Ongkos Naik Haji (ONH). Kasim adalah manusia kesekian yang melakukan hal yang sama seperti jutaan jemaah haji lainnya. Mereka berniat berjumpa dengan Allah Swt tanpa perhitungan keduniawian sama sekali. Mereka mencoba untuk datang menghadap Allah Swt dengan memberikan hal terbaik yang pernah mereka miliki.

Subhanallah! Langkah Kasim menuju rumah-Nya mendapat kemudahan. Ia pun berangkat di tahun yang sama. Sesampainya di sana, ia melakukan ibadah dengan khusyuk dan nikmat. Belum pernah ia merasakan hal seperti itu sebelumnya! Bahkan karena terlalu khusyuk, ia tidak resah meninggalkan keluarganya tanpa bekal, bahkan ia tidak pernah mengingat usahanya yang kini sudah tiada lagi bermodal. Semua uang yang ia miliki, seluruhnya telah ia habiskan untuk datang menghadap Tuhannya. Kenikmatan ibadah itu pun terus berlangsung, dan Kasim larut dalam lautan cinta Tuhannya.
Hingga, saat perpisahan dengan rumah Allah Swt pun tiba. Dalam tawaf wada’ yang ia lakukan, air mata Kasim mengalir deras. Perasaannya hanyut dan hatinya hancur tak kuat meninggalkan rumah tersuci itu. Di depan Multazam , sambil mengangkat tangan seraya berdoa… Dengan air mata yang jatuh menetes di pipi… Suara tersengguk dengan isak tangis itu pun terdengar dari mulutnya:
Ya Allah…. Kini tiba waktu perpisahan diriku dengan rumah-Mu. Berilah aku kesempatan untuk dapat mengunjunginya lagi, bila itu tak terwujud, maka janjikanlah padaku surga sebagai ganti.
Allah…., tak tahu apa yang dapat aku berikan kepada-Mu… Namun sesampainya di rumah, aku akan berikan 1000 hariku di jalan-Mu, dan aku tidak berharap pamrih dari manusia. Aku ingin memberi yang terbaik untuk-Mu, ya Rabbi!

Entah apa yang merasuki benak Kasim? Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia berucap sedemikian. Namun ia merasakan sebuah cinta yang terdalam. Begitu membekas dan memberi cahaya dalam hatinya. Kasim mengerti bahwa inilah yang disebut sebagai cinta sejati.

Kasim pun pulang ke tanah air. Sepanjang jalan menuju rumah kediaman, baru muncul kembali di benaknya gambaran istri dan anak-anaknya. Tak lupa setan pun memunculkan kembali kekhawatiran akan usaha yang tidak mungkin lagi berjalan sebab modal yang telah habis. Namun, Kasim masih tetap tenang. Tetap tersenyum sebab ia telah mendapatkan cinta Tuhannya.
Siapa yang memberikan hal terbaik kepada Allah Swt, maka Dia Swt akan membalas dengan hal terbaik yang Dia miliki!

Kasim tiba di rumah. Itu adalah hari pertama nazarnya kepada Allah Swt. Banyak sanak keluarga yang berdatangan, tak lupa juga para tetangga. Semua datang untuk bersilaturrahmi kepada Kasim yang baru pulang dari tanah suci.

Semua bahagia tatkala mendapat oleh-oleh dan hadiah dari Kasim. Tiba giliran seorang tetangga yang datang berjalan dengan kaki kanan terseret. Kasim menatap tajam ke arah kaki tersebut. Setelah tetangga itu duduk mendekat ke arah Kasim, baru ia ketahui bahwa tetanggaya baru saja terkena stroke.

Leave a Reply