PERBANYAK SEDEKAH

Demi mengisi bulan yang penuh rahmat Allah ini, salah satu hal yang diajarkan oleh Rasulullah Saw adalah memperbanyak sedekah. Memberikan harta terbaik yang kita miliki untuk dirasakan juga oleh mereka yang kurang beruntung. Sehingga terciptalah rasa toleransi, berbagi nasib dan penderitaan yang berganti senyum kebahagiaan dan tawa ceria.
Hal ini sungguh telah beliau Saw contohkan kepada ummatnya. Dan sungguh Ramadhan adalah moment yang tepat untuk memperbanyak sedekah dan berbagi dengan sesama. Seperti hadits berikut ini:

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس، وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل، وكان جبريل يلقاه في كل ليلة من رمضان فيدارسه القرآن؛ فلرسول الله صلى الله عليه وسلم حين يلقاه جبريل أجود بالخير من الريح المرسلة. متفق عليه.

Dari Ibnu Abbas Ra yang berkata, “Rasulullah Saw adalah manusia yang paling dermawan. Saat dimana beliau paling suka berderma adalah pada bulan Ramadhan saat beliau sering bertemu Jibril. Jibril kerap datang menemui beliau Saw pada setiap malam di bulan Ramadhan untuk mengajari Al Qur’an. Sungguh Rasulullah Saw saat sering bertemu Jibril adalah manusia yang paling suka berderma bahkan bisa mengalahkan angin yang bertiup kencang.” Hadits Muttafaq Alaihi.

Sungguh, Rasulullah Saw adalah manusia yang paling mengerti akan kebenaran dan balasan-Nya. Beliau Saw adalah manusia yang amat percaya dengan janji Allah Swt atas ganjaran kebaikan. Sebab ganjaran pahala dan kebaikan adalah rahasia langit yang dijanjikan, dan hingga kini belum dapat diindera oleh ummat manusia, karenanya Rasulullah Saw hanya mencontohkannya, dan beliaulah sebaik-baik contoh yang pernah ada.
Beliau Saw bersedekah begitu sering bahkan mengalahkan angin yang bertiup kencang. Ini berarti, bahwa tangan beliau Saw begitu ringan untuk membantu sesama. Tidak ada jeda waktu yang beliau perlukan untuk memenuhi permintaan orang yang berkekurangan. Beliau Saw hanya berharap balasan Allah Swt yang berlipat ganda, di bulan Ramadhan yang penuh rahmat.
Agus Herlambang seorang warga keturunan baru saja masuk Islam. Ia rela meninggalkan rumah dan keluarganya demi mengejar kebenaran agama yang diyakininya. Pada Juni tahun 1986, ia pergi ke Tasikmalaya dan berguru kepada seorang kyai di sana.

Sudah empat tahun lebih ia tinggal bersama gurunya, di lingkungan sebuah pesantren yang memberikan kesejukan lahir dan batin untuk dirinya. Hingga pada Ramadhan tahun 1990, ia mendengar kabar bahwa ibunya, orang tua yang masih tersisa, meninggal karena menanggung sakit yang lama diderita. Agus pun terpanggil untuk pulang.

Sesampainya di rumah, ia mendapat cercaan dari seluruh kakaknya. Mereka menuduh bahwa Aguslah biang dari kematian ibu. Tapi Agus mencoba bersabar saat itu. Hingga keesokan harinya, saat jasad ibunya telah dikebumikan. Semua keluarga besar berkumpul untuk membicarakan pembagian harta waris. Karena berbeda agama, Agus tidak mendapatkan bagian sedikitpun dan ia merasakan aroma diskriminasi di sana. Agus pun tersinggung dan pergi meninggalkan rumah untuk kembali ke pesantren dan menghadap kyai.
Sesampainya di pesantren, Agus langsung mengadukan ketidak-adilan ini pada pak kyai. Kyai Mahfuddin yang bijak langsung berkomentar, “Sudah, tidak usah sedih… sana pergi dulu ke dapur dan minta makan sama Umi !” Mendengar komentar pak Kyai, Agus bertanya dalam hati bahwa ini khan Ramadhan, bulan puasa, kenapa saya disuruh makan? Sesaat Agus mengerti bahwa dirinya masih dalam kondisi safar , dan mungkin hal itulah yang menyebabkan pak kyai menyuruhnya makan. Agus pun melangkahkan kakinya menuju dapur.

Di dapur Agus bertemu Umi yang rupanya telah menyiapkan makanan di atas meja. Lalu dirinya pun dipersilakan untuk makan. Dalam batin, Agus memuji keluarga Kyai Mahfuddin yang begitu memuliakan tamu hingga mau menyediakan makanan meski dalam suasana shaum Ramadhan.
Usai makan, Agus bergegas untuk kembali menemui pak kyai dan menyampaikan segala uneg-uneg dan kekesalannya terhadap sikap keluarga. Baru saja, Agus melihat sosok pak kyai, ia langsung disambut dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut kyai, “Sudah makan, Gus?” Agus pun membalas, “Sudah, kyai!”

Tak disangka Kyai Mahfuddin berujar, “Sana pergi lagi ke dapur dan minta tambah makan sama Umi!” Sejurus kemudian Agus menukas, “Saya sudah kenyang, pak kyai!” “Ayo… rezeki jangan ditolak. Tambah makannya, Agus!” suara pak kyai agak meninggi seolah memberi perintah kepadanya, maka Agus pun kembali ke dapur untuk menambah makan.
Jujur, Agus sudah merasa kenyang. Namun demi mematuhi perintah guru. Ia pun pergi ke sana untuk memenuhinya. Untuk kedua kalinya, ia kembali makan. Dua piring sudah yang telah ia makan. Kenyang dan kembung yang ia rasakan.

Usai makan, Agus datang kembali untuk menghadap pak kyai. Namun aneh baginya, sebab untuk sekali lagi pak kyai memintanya menambah makan. Meski Agus menolak, akhirnya ia pun tunduk atas perintah gurunya.
Kali ini hanya beberapa suap sendok yang bisa ia masukan ke rongga lambungnya. Hampir muntah ia jadinya. Perut terasa begitu kenyang hingga mual yang ia alami. Dengan itu, 3 piring yang telah ia lahap dan rasanya tidak mungkin lagi ia mampu untuk melahap apapun.
Sambil memegang perut tanda kenyang, Agus datang menghadap kyai. “Ampun pak kyai, jangan suruh saya makan lagi. Saya sudah tidak kuat untuk nambah makan!” Agus berujar dengan mimik yang menggambarkan kekenyangan. Pak kyai tersenyum. Dengan enteng beliau menukas, “Gus… baru 3 piring kamu sudah merasa kenyang dan nggak kuat lagi melahap makanan. Kalau memang segitu takaran dirimu, ngapain kamu ngotot minta harta waris yang banyak. Sudah…, ikhlaskan saja dan biar Allah yang akan membalas dirimu dengan pahala yang besar!”
Mendengarnya, Agus terbengong. Ia baru sadari bahwa inilah maksud pak kyai memintanya makan berulang kali. Sejenak, Agus pun merenungi dan tak terasa deretan air mata hangat menitik di pipinya.
Itulah hakikat manusia dan harta. Banyak sekali manusia yang terobsesi untuk mendapatkan harta, meskipun ia tahu bahwa harta tak akan memberinya kebahagiaan dan kecukupan.

وَمَا يُغْنِي عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّى

“Dan hartanya tidak bermanfa’at baginya apabila ia telah binasa.”
(QS. 92:11)
Bila manusia sudah menyadari hakikat harta yang binasa ini, maka semestinya ia harus berpikir untuk mentransformasikan harta yang ia miliki sehingga dapat ia bawa sebagai modal dalam mengarungi hidup di akhirat nanti. Salah satu caranya adalah dengan banyak bersedekah. Untuk apa harta banyak digunakan kalau hanya habis karena dimakan. Maka gunakanlah harta yang Allah berikan secukupnya, dan selebihnya habiskanlah dengan bersedekah.

Dengan sedekah, harta yang tadinya hanya akan habis kita gunakan atau makan, maka akan menjadi pahala yang besar di sisi Allah Swt hingga berlipat ganda, dan akan ditemukan kembali sebagai kebaikan di akhirat. Apalagi bila hal itu dilakukan dalam bulan Ramadhan, bulan yang penuh rahmat. Dimana setiap amal manusia dilipatgandakan dalam jumlah yang hebat. Itulah yang dicontohkan baginda Rasulullah Saw.

Perbanyaklah sedekah di jalan Allah Swt, dan hiasilah Ramadhan kali ini dengan sedekah. Insya Allah Ta’ala, Dia Swt akan menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan ini dengan usaha dan jerih payah yang kita lakukan dalam ibadah, dan do’a manusia yang menerima sedekah kita. Amien.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *