SAAT MENTAATI ALLAH SWT

Ramadhan telah datang. Dia menghampirimu dengan segala kebaikan yang dimilikinya. Dialah bulan termulia di sisi Allah Swt dibandingkan seluruh bulan yang ada. Kedatangannya membuat seluruh peluh dosa dan hadats jiwa tersucikan. Demikian sabda baginda Nabi Saw:

الصلوات الخمس، والجمعة إلى الجمعة، ورمضان إلى رمضان مكفرات لما بينهن إذا اجتنبت الكبائر. رواه مسلم.

“Shalat yang lima waktu. Jum’at yang satu ke Jum’at berikutnya. Ramadhan yang satu ke Ramadhan selanjutnya. Maka itu akan menjadi kaffarah (penebus dosa), selagi bukan dosa besar yang dikerjakan.” HR. Muslim
Seluruh manusia berbahagia menyambut kedatangannya.
Bukan saja manusia, bahkan seluruh alam! Sebab Ramadhan adalah sebuah momentum kebangkitan. Kebangkitan ruh dari kelengahannya. Kebangkitan jiwa dari tidur panjangnya.

Apakah tidak terbersit dihatimu bahwa saat Ramadhan tiba, semua alam akan tersenyum bahagia?
Masjid, mushala, surau, langgar di kota yang ramai, di dusun yang hening, di desa yang jauh bahkan di tengah gurun yang sunyi… saat Ramadhan tiba semuanya menjadi makmur dan ramai. Semua manusia seolah beriman dengan sepenuh hati. Tidak sama dengan bulan lainnya, di bulan Ramadhan ini rumah-rumah Allah dijejali oleh sesak manusia yang tunduk beriman. Aura keimanan yang tergambar dalam firman Allah Swt berikut jelas terlihat:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللّهِ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللّهَ فَعَسَى أُوْلَـئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat, menuaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. 9:18)

Malam yang lelah di kota-kota besar, atau malam yang hening di pelosok negeri, saat Ramadhan tiba berubah menjadi saat perayaan. Kehadiran malam disambut semua manusia yang berpuasa dengan suka cita sebagai tanda telah ditaklukannya hawa nafsu diri sepanjang hari. Mereka bersyukur mengucap tahmid kepada Allah Swt Sang Pemberi kehidupan. Usai berbuka mereka pun berduyun meramaikan rumah Allah Swt untuk melakukan shalat tarawih dan qiyamullail yang amat jarang terlihat di sepanjang tahun.

Seorang pria bernama Bonar tengah berbaring di sebuah ranjang rumah sakit di awal Ramadhan tahun 1982. Entah mengapa tubuhnya terasa begitu sakit. Di antar oleh Ading, seorang pembantunya ia pergi ke rumah sakit umum Muhammad Husein di kota Palembang.

Baru saja beberapa hari Bonar berada di kota itu. Ia hadir di Palembang karena kabur dari sebuah perkara yang dilakukannya di Jakarta. Beberapa hari yang lalu ia membunuh seorang rekannya karena sengketa wilayah usaha. Sebenarnya, perkara itu bukanlah hal besar. Usaha yang dirintis Bonar pun hanyalah tambal ban.

Memang sudah beberapa hari Ucok selalu datang ke warung tambal ban Bonar. Ucok selalu mengatakan bahwa Bonar sudah tidak boleh lagi menempati warungnya. Menurut Ucok, Bonar sebagaimana namanya selalu membuat onar hingga banyak orang yang merasa tidak senang atas kehadirannya di sana.
Bonar memang seorang manusia bejad. Seenak hati, ia mendirikan warung tambal ban di wilayah orang. Sementara untuk mendapatkan pelanggan, ia kerap menebar paku karat dalam radius 200 meter di sepanjang jalan depan warungnya. Banyak orang yang merasa kesal atas cara Bonar mencari uang.
Pagi itu setelah sekian kali datang ke warung tambal ban, Ucok terlibat perang mulut dengan Bonar. Ucok sudah tidak sabar karena berulang kali diperingatkan, Bonar tidak pernah merubah kelakuan. Sebagai sahabat yang pernah menolongnya dari hidup tak tentu arah, Ucok menceramahi Bonar dengan panjang lebar.

Tak kuasa menahan amarah karena harga diri direndahkan, Bonar pun masuk ke dalam warung, dan mengambil sebuah golok yang ia punya. Bonar kalap, sementara Ucok panik melihat reaksi temannya. Sebuah sabetan dilayangkan Bonar ke tengkuk Ucok. Ucok langsung limbung dan jatuh karena hilang kesadaran. Melihat hal itu, Bonar masih belum merasa puas. Ia tancapkan golok berkarat itu berulang kali ke lambung Ucok hingga buyarlah apa yang ada di dalamnya. Begitu tubuh Ucok tidak bergerak lagi, maka mayatnya pun diseret Bonar dan Ading, pembantunya, ke belakang warung.

Sebelum ada orang yang tahu, Bonar pun kabur menyelamatkan diri tanpa sempat menutup warung. Hanya ada satu saksi di sana, yaitu Ading pembantunya. Merasa tidak aman, Bonar pun menggamit tangan Ading dan mengajaknya ikut serta kabur ke luar kota. Bonar saat itu hanya sempat membawa uang yang ia punya dan baju yang melekat di badan, begitu pun Ading.

Mereka berhasil kabur menyelamatkan diri sampai terdampar di kota Palembang. Hingga hari ke sebelas berada di sana, belum ada yang dilakukan mereka berdua. Mereka hanya berdiam diri di sebuah kamar kost yang mereka sewa.

Hingga tiga hari yang lalu, saat bulan Ramadhan telah tiba, tanpa diduga Bonar merasakan perutnya melilit. Rasa sakit itu makin menjadi-jadi hingga ia tidak mampu berdiri, apalagi berjalan. Untung ada Ading, segala kebutuhan Bonar pun dibantu olehnya.

Merasa tak kuasa menahan sakit, Bonar pun minta Ading mengantarkannya ke rumah sakit terdekat. Bak sebuah karma atas dosa yang ia lakukan, rupanya Bonar menderita sakit liver akut dan membuatnya harus menjalani rawat inap. Sudah hampir seminggu Bonar ada di sana, terbujur lemas tak berdaya. Semua duit yang ia miliki dititipkan kepada Ading untuk membayar biaya perobatan dan membeli makanan bagi mereka berdua.

Seperti penderitaan yang tiada berujung, begitu uang yang ia titipkan kepada orang yang ia percaya, maka Ading pun kabur dengan uang sejumlah dua juta delapan ratus ribu miliknya. Hal itu membuat Bonar semakin sadar bahwa ini adalah karma atas dosa membunuh yang ia kerjakan.

Bonar terbujur lemas. Ia merasa menyesal atas segala dosa yang pernah ia lakukan. Tak tahu hendak kemana mau mengadu, maka hati kecilnya pun membisikkan sesuatu kepadanya, “Tidakkah kau dengar suara merdu itu?”
Dalam sekali ia berkonsentrasi. Memusatkan perhatian untuk mendengarkan suara yang dimaksud oleh kata hati. Maka sayup-sayup ia mendengar suara yang menggetarkan dinding kalbunya sampai berulang-kali.

“Allahu Akbar…. Sami’allahu liman hamidah… Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…!”
Kalimat itu terdengar dengan baik oleh telinga batin Bonar. Tidak seperti seminggu sebelumnya, bacaan shalat Tarawih dari mushalla terdekat yang pernah ia dengar tidak pernah menyita perhatiannya. Kali ini, sungguh ucapan itu mengguncang relung batin Bonar.

“Allahu Akbar!” Sekali lagi aba-aba Imam kepada makmumnya terdengar oleh Bonar. Sontak, seluruh tubuh Bonar bergetar. Ia menggigil ketakutan. Seolah tubuhnya begitu lemah, dihadapan keperkasaan Allah Ta’ala Yang Maha Besar. Berbagai rasa takut, panik, kalut mulai menghampiri diri. Seolah segala dosa yang pernah ia perbuat hendak mencaplok dirinya dan memasukkannya ke dalam neraka Allah yang panas membakar. Ia sadar, waktunya untuk hidup di dunia pun tidak akan lama lagi.

Dalam kekalutannya, dengan bibir bergetar Bonar berucap…. “Ampun, ya Allah…. hamba mohon ampun. Kasihani diri hamba ini! Hamba sudah tidak lagi berdaya. Berilah ampunan-Mu kepadaku! Izinkan aku untuk hidup dan mentaati-Mu. Sungguh aku adalah hamba-Mu dan Engkau adalah Tuhanku. Mohon ampun, ya Allah!” Bonar mengucapkan kalimat itu dengan suara serak dan air mata yang berjatuhan.

Suasana hening di ruang kamar rumah sakit umum Muhammad Husein itu. Tidak ada yang merespon isak-tangis yang keluar dari mulut Bonar. Dia merasa begitu lemah. Sendirian. Di kelilingi malaikat yang menghakiminya sekaligus membawakan ampunan Allah Swt kepadanya.

Usai pertobatan kepada Allah Swt yang ia lakukan di malam itu. Di sepuluh hari awal Ramadhan tahun 1982. Maka seolah mendapat obat mujarab, penyakit yang ia derita pun berangsur pulih dalam waktu singkat. Dosanya telah diangkat Allah. Karenanya, penyakit pun hilang seketika. Mulai saat itu, Bonar berjanji untuk menjadi hamba Allah yang taat. Menjalankan apa yang Allah perintahkan kepadanya, dan meninggalkan apa yang telah Allah haramkan untuknya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنتُمْ تَسْمَعُونَ

Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintahnya), (QS. 8:20)

وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا

Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang telah melakukan kezaliman. (QS. 20:111)

Saudaraku, Ramadhan sering datang dan hadir kepada kita. Ia datang dengan segala kebaikan, kebenaran, anugerah dan ampunan. Semua ini adalah sebuah momentum berharga yang dapat kita miliki. Ketika momentum itu datang menghampiri kita, akankah kita akan membiarkan momentum itu terlewat begitu saja tanpa arti apa-apa? Paling tidak, jadikanlah Ramadhan kali ini sebagai saat untuk mentaati Allah Swt. Semoga kita semua mampu melakukannya. Aaamin!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *